Sepenggal Kisah Kami yang Terlahir Sebagai Anak Pertama “Boru Panggoaran”


Ai Ho do Borukku, boru panggoaranki sai sahat ma da na di rohami”
Saat aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, aku sering mendengar bahkan menyanyikan lagu yang sangat populer di Tanah Batak ini. Bukan karena aku terlahir sebagai anak pertama atau tertua sehingga aku sering menyanyikannya. Tapi entah mengapa lagu ini seperti mengandung jutaan makna. Seorang anak pertama yang menjadi pembawa nama keluarga, sehingga orangtua berharap anak pertamanya dapat menggapai semua impiannya.

Ada yang berbeda saat aku tidak lagi sendiri, tapi memiliki teman bermain yang lahir dari rahim yang sama.
Bagiku dia adalah teman. Tetapi kata ayah dan ibu, bahkan orang lain, dia adalah sosok adikku yang akan menjadi teman berbagi baik suka dan duka.

“Ya, dia adalah adikku. Saudaraku yang tumbuh bersama dengan kasih sayang orangtuaku yang luar biasa.”

Bahkan pada tahun-tahun berikutnya, kami tidak berdua tapi bertiga bahkan berempat.
Aku tidak pernah bertanya mereka muncul entah dari mana. Yang aku tahu, mereka adalah saudaraku, adikku yang harus aku sayangi dan memarahi anak tetangga jika mengganggu mereka. Mereka adalah adik-adikku yang luar biasa dan tidak pernah ada rasa tidak nyaman ketika bersama mereka. Hingga suatu saat, ketika mereka menangis dan berkata,

“Ibu, kakak mengambil permenku.”

Ibuku marah dan mulai menceramahi aku dan membuatku menangis.

“Kamu anak pertama, anakku. Sudah selayaknya kamu menjaga adik-adikmu, bukan membuat mereka menangis.

Saat itu, aku merasa ibuku sudah tidak sayang lagi padaku. Aku merasa mereka tidak peduli lagi.
Saat aku dimarahi ibu, aku berlari ke kamar dan mengurung diri. Aku merasa bahwa ibuku tidak adil dan tidak sayang lagi kepadaku tetapi hanya menyayangi adik-adikku. Segala sesuatu yang kulakukan sepertinya salah di mata Ayah dan Ibuku. Ya, saat itu aku tidak mengerti entah apa yang kupikirkan. Yang kutahu, ayah dan ibu hanya menyayangi mereka saja dan mereka merebut posisiku.

Tetapi kehidupan yang sangat keras ini berkata lain. Di balik suka duka yang datang, aku mulai mengerti.
Saat itu, Tuhan mungkin sedang menguji kekuatan iman kami. Seberapa besar kami akan bertahan menunjukkan betapa bahagianya kami. Di balik keluarga yang terlihat harmonis, akan selalu ada badai yang menerpa, menimbulkan puing-puing luka, dan kami harus bekerja keras untuk menepis semua luka untuk tetap tersenyum. Hatiku mulai tergerak membawa mereka kembali terutama adik-adikku untuk tetap tersenyum melewati semua yang ada di depan mata.

Lewat puing-puing luka, Tuhan menyadarkan aku betapa pentingnya mereka di dalam hidupku, betapa besarnya tanggung jawabku sebagai anak tertua di dalam keluarga.Dan aku mulai kecewa ketika aku gagal menjadi kakak di mata mereka.

Pepatah mengatakan,

“Jika anak pertama atau tertua berhasil dan sukses, maka adik-adiknya juga ikut berhasil dan sukses. Tetapi jika sebaliknya, maka adik-adiknya juga akan mengikuti jejak abang atau kakaknya.“

Pepatah ini terus terngiang di telingaku, bahkan saat aku tidak masuk ke universitas dan jurusan yang kuimpikan. Rasanya, aku terjatuh dan tidak layak jadi panutan. Dan tentu saja mereka tidak akan bangga dengan kehadiranku sebagai kakak mereka. Bahkan saat aku melawan dan tidak mendengarkan nasehat Ayah dan Ibu, aku merasa tidak ada cerita yang patut menjadi contoh yang akan mereka dengar. Kembali aku merasa gagal dan menangis lagi.

Tapi aku percaya akan semua rencana Tuhan dalam hidup ini, terutama tanggung jawabku sebagai anak pertama.
Kini kami berempat saling berjauhan. Berjauhan bukan berarti kami menjadi musuh. Kami berpisah satu sama lain untuk menggapai mimpi, untuk membuat Ayah dan Ibu tersenyum bangga karena keberhasilan anak-anaknya. Berbagai macam cemooh, komentar, bahkan nasehat dari orang lain dan keluarga yang kadang membuatku menangis, iri melihat keberhasilan orang lain yang posisinya sebagai Kakak yang membanggakan bagi adik-adik dan keluarganya.

Tetapi tangisan dan rasa iri itu akan hilang jika tetap berjuang, berusaha, berdoa, dan percaya Tuhan selalu punya rencana yang indah.

Dan apapun itu, anak pertama, anak kedua, ketiga, bahkan anak paling bungsu, keberhasilan adalah dengan tetap menghormati Ayah dan Ibu.
Tidak ada perbedaan dengan urutan kelahiran. Tidak ada kasta. Tetapi bagi kami anak pertama, menjadi contoh yang baik adalah tanggung jawab yang harus dituntaskan.

Ya dan saya Anak Pertama

Salam Boru Panggoran

Related : Sepenggal Kisah Kami yang Terlahir Sebagai Anak Pertama “Boru Panggoaran”