Tanggal 19 April 2017 : Hari Kemenangan Ahok Yang Menggambarkan Kota Jakarta Menang Melawan Radikalisme Dan Terorisme .


Dibanding Pilpres 2014 lalu, saya pikir Pilkada DKI 2017 ini jauh lebih berat dan menguras emosi. Kita dipaksa melihat aksi-aksi bodoh dan tolol luar biasa dari demonstran para penjual agama, yang tanpa rasa bersalah berteriak bunuh-bunuh-bunuh si Ahok di tempat umum. Kita dipaksa melihat aksi-aksi SARA yang begitu provokatif lewat banner bertuliskan: ganyang China, tolak memandikan jenazah pendukung Ahok, sampai Jakarta Syariah jika Anies Sandi menang.

Sebenarnya Pilkada DKI 2017 ini hanyalah kelanjutan dari Pilpres 2014. Mereka yang gagal moveon dan masih berharap Prabowo bisa jadi Presiden, kini mati-matian mendukung Anies Sandi. Cara-cara yang mereka lakukan pun sebenarnya sama saja, isu China, PKI, nonmuslim dan seterusnya. Persis seperti yang mereka tuduhkan dan fitnahkan kepada Jokowi.

Kecentilan Prabowo yang mengatakan jika ingin dirinya jadi Presiden 2019 harus total mendukung Anies Sandi, menjadi sebuah konfirmasi atau semacam obat kuat untuk mendoping para gagal moveon tersebut untuk tetap gila dan gagal moveon. Kalau kata Meggi Z “sudah tahu luka di dalam dadaku, sengaja kau siram dengan air garam.” Ya makin kejang-kejanglah mereka ini.

Hanya bedanya, Ahok tidak perlu difitnah, karena memang dia China dan nonmuslim. Sehingga inilah yang kemudian membuat eskalasi politik SARA menjadi jauh lebih kuat dibandingkan saat Pilpres 2014 lalu.

Melihat pola yang sama, saya pikir ini jadi ujian serius bagi Pancasila dan kebhinnekaan yang kita jaga selama puluhan tahun, yang diperjuangkan dengan darah dan air mata. Indonesia berdiri dan merdeka sebagai negara republik. Bukan negara Islam seperti yang dicita-citakan oleh partai wahabi dan ormas-ormas radikal produk orde baru. Selanjutnya apakah kita akan tetap berteriak lantang NKRI harga mati atau kalah dengan suara Jakarta Syariah, negara Islam Indonesia, khilafah atau sejenisnya? Itulah ujian terberatnya.

Saat ini, secara tidak sadar masyarakat kita sudah dibutakan oleh ormas radikal. Mereka berhasil meraih simpati dengan doktrin agama untuk kepentingan politik. Buktinya Anies yang merupakan orang gagal, dipecat jadi menteri, kini mendapat suara yang cukup banyak dari warga DKI hanya karena faktor agamanya Islam.

Masyarakat Jakarta yang merasa puas dengan kinerja Ahok Djarot mencapai 70 persen. Namun kenyataannya Ahok tidak bisa menang 70 persen. Karena apa? Karena agamanya bukan Islam.

Jika pada Pilpres 2014 mereka gagal memfitnah Jokowi sebagai keturunan China dan bukan Islam, kini mereka sedang mencoba peruntungan lagi dengan materi dan strategi yang sama. Ahok sebagai China dan nonmuslim hanyalah faktor kebetulan belaka, sebab sekalipun bukan Ahok yang jadi lawan politiknya, mereka tetap akan memfitnah dan menuduhnya China serta bukan Islam, persis seperti yang dialami Jokowi dulu.

Kalau mereka menang, ini akan jadi strategi yang ampuh dalam memenangkan kontestasi Pilkada atau Pilpres di lain tempat dan kesempatan. Sehingga seorang calon pemimpin daerah tidak perlu susah payah membuat rencana pembangunan, rencana kerja dan visi misi. Dan Indonesia akan kembali pada jaman jahiliyah, yang anggarannya terserap nyaris 100 persen tapi nol pembangunan dan solusi pada masyarakat. Karena apa? Karena pemimpinnya dipilih bukan karena hasil kerja, tapi hasil doktrin dan persepsi SARA.


 
Bom waktu yang tak disadari banyak orang
Sebenarnya, jika ini hanya soal merebut kekuasaan, itu hal kecil yang tidak terlalu darurat untuk dilawan. Masyarakat Indonesia tetap bahagia dan masih bisa tertawa sekalipun puluhan tahun dipimpin seorang diktator bernama Soeharto, yang merupakan mertua Prabowo. Rakyat Indonesia terlahir sebagai manusia-manusia yang daya bertahan hidupnya sangat kuat.

Tapi masalahnya tak sesederhana itu. Kita bisa sedikit tutup mata dengan upaya kebangkitan orde baru lewat Prabowo atau sang putra mahkota Tomi Soeharto. Mereka bisa menjadi pemimpin daerah asal memang bisa memimpin dan bisa memajukan Indonesia.

Masalahnya adalah, mereka ini tidak tau apa-apa, tidak paham cara memimpin kota atau wilayah tapi ingin berkuasa. Prabowo misalnya, dia tidak akan mau menjadi Walikota atau Gubernur. Maunya langsung jadi Presiden. Begitu juga dengan Tomi Soeharto. Kemudian tanya saja pengalaman apa yang mereka miliki dalam memimpin rakyat? Nol. Mengelola negara atau daerah tidak sama dengan memimpin perusahaan atau pasukan militer. Sehingga kalau dipaksakan, mereka akan menjadi pemimpin otoriter atau pemimpin yang menabrak banyak aturan untuk kepentingan bisnisnya.

Dan yang jauh lebih buruk dari itu semua adalah, mereka menggunakan segala cara, termasuk dilibatkannya ormas radikal. Mereka seperti tidak sadar akan konsekuensi dan resikonya, dan hanya memikirkan cara berkuasa.

Negara ini di ambang kerusuhan gara-gara politik SARA yang mereka mainkan bersama ormas radikal. Lihat saja Rizieq dan kawan-kawannya, mereka berani menyerukan bunuh-bunuh-bunuh si Ahok, berani orasi gantung-gantung-gantung si Ahok. Berani menyebut Ahok kutil babi. Berteriak dan mengancam revolusi. Secara terbuka, di Monas dan bundaran HI. Apa kalian tidak sadar bahwa ini ancaman serius masa depan negara kita?

Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, sepertinya baru sekarang ada kelompok yang berani dengan lantang ingin membunuh dan menggantung sesama warga negara Indonesia secara terbuka. Apa yang kita lihat dan dengar belakangan ini, nampak seperti penjajah yang merasuk pada orang-orang Indonesia, dan menginginkan negara ini rusuh.

Buruknya, kelompok radikal dan berjiwa penjajah tersebut berada di kubu Anies. Dirangkul dan dibangga-banggakan. Kita tentu masih ingat ketika Anies juga memainkan SARA, menyebut orang Arab lebih dulu menyatakan sumpahnya bertanah air Indonesia.

“Cuma orang Arab yang berani melakukannya di tahun 1934, yang lain tidak ada. Orang Jawa mengaku bertanah air Indonesia. kalau Indonesianya ga jadi, dia kembali jadi orang Jawa. Lha kalau orang Arab mengaku bertanah air Indonesia, lalu Indonesianya ga jadi, mau kembali ke mana? Benar benar nekat. Cuma orang Arab yang berani nekat begini…” kata Anies di hadapan Rizieq dan para pengikutnya.

Anies sengaja tutup mata dengan Sumpah Pemuda tahun 1928 dan mengagung-agungkan Arab karena dia sedang berada di komunitasnya. Karena ada Rizieq dan pengikutnya. Tujuannya? Memainkan politik SARA. Sebab mustahil Anies lupa dengan Sumpah Pemuda. Dia adalah doktor, mantan rektor termuda, akademisi dan mantan Menteri Pendidikan, mana bisa tidak tau Sumpah pemuda?

Anies nampak dengan sengaja membangga-banggakan orang Arab, dianggap lebih superior dibanding yang lain. padahal Republik Indonesia ini berdiri dan merdeka karena peran serta kontribusi semua suku dan ras.

Jujur saya tidak tau apakah Anies tidak sadar bahwa pernyataan-pernyataannya begitu mengancam kerukunan di negara ini? Yang saya tau Anies nampak melupakan idealismenya demi kekuasaan. Dulu Anies menyebut Prabowo didukung mafia, memiliki masalah masa lalu. Dulu Anies begitu menyerang FPI yang merupakan ormas radikal. Tapi sekarang Anies bergabung dan membangga-banggakan mereka hanya demi kursi Gubernur.

Terakhir, menurut saya strategi politik SARA, penggunaan ormas radikal dalam menjual agama Islam, demo ancaman pembunuhan dan gantung seperti itu harus dikalahkan lagi. 2014 mereka sudah kalah, maka tahun 2017 ini mereka juga harus kalah. Jika tidak, saya tidak dapat membayangkan betapa buruknya nasib bangsa ini ke depan. Sebab bayangkan, tidak berkuasa saja mereka berani teriak bunuh-bunuh-bunuh, gantung-gantung-gantung, apalagi benar-benar berkuasa atau menjadi bagian dari kekuasaan?

Untuk itu saya pikir kemenangan Ahok Djarot di Pilkada Jakarta ini adalah kemenangan rakyat melawan kelompok radikal, yang kerap menyebar teror serta propaganda. Dan saya menganggap kemenangan Ahok merupakan hal yang harus kita perjuangkan bersama-sama.

Begitulah kura-kura.